(CERITA
HORROR !!! jangan baca kalo anda merasa penakut….!!!)
Pada suatu malam ada seorang pemuda (sebut
saja namanya Budi) sedang menempuh perjalanan dari Surabaya ke Jakarta dengan
menggunakan bis malam. Di tengah perjalanan, saat bis tersebut berhenti di
sebuah terminal, seorang kakek tua naik dan menawarkan buku-buku bacaan pada
semua penumpang.
Sesampainya
di kursi Budi bapak tua itu pun menawarkan dagangannya
“Bukunya
mas? Ada macam-macam nih. Buku silat, cinta-cintaan, agama, dan lain-lain”,
ujar sang kakek dengan logat khas jawa tengah.
Budi yang
kebetulan sedang tidak bisa tidur pun tertarik. “Ada buku misteri atau horor
gak kek?”
“Oh suka
cerita horor yah?”, jawab si kakek. “Kebetulan ada sisa satu mas. ini cerita
dan pengalaman nyata, kata teman saya yang pernah baca, katanya ceritanya bagus
mas dan memang benar-benar horor, karena kebetulan diangkat dari kisah nyata
dan pengalaman orang. Ceritanya tentang bis yang ditinggali banyak Arwah
penasaran. Judulnya “PENUNGGU BIS BERDARAH”. Serem banget deh pokoknya ..!!”
“Boleh juga
tuh. Berapa harganya?”
“seratus
ribu, nak”
“Walah,
mahal bener harganya, kek”.
“Ya namanya
juga buku bagus. Kata orang sih Best seller. Semua yang baca buku ini kabarnya
sampe syok loh waktu baca endingnya”, si kakek berpromosi ala salesman.
"Boleh
kurang?"
"Buat
penglaris sembilan puluh deh mas"
Budi pun
akhirnya mengalah, karena memang butuh sekali buku buat mengusir rasa
kantuknya. Uang sembilan puluh ribu berpindah tangan.
Entah
kenapa, tepat pada saat ia menyerahkan uang tersebut ke kakek tua, tiba-tiba
terdengar suara petir menggelegar. Angin pun terasa mulai bertiup kencang. Si
kakek buru-buru melangkah turun ke bis, namun tiba-tiba berhenti dan menolehkan
wajahnya pelan-pelan ke arah Budi.
“Mas”,
ujarnya lirih, “apa pun yang terjadi, harap jangan buka halaman terakhir ya.
Ingat, apapun yang terjadi. Kalau tidak nanti kamu akan menyesal dan saya tidak
bisa bertanggung jawab.”
Jantung Budi
berdegup kencang. Saking takutnya, ia sampai tidak mampu menganggukkan kepala
hingga akhirnya si kakek turun dari bis dan menghilang ditelan kegelapan.
Singkat
cerita, dua jam kemudian, sekitar pukul satu malam, Budi selesai membaca
seluruh buku tersebut. Kecuali halaman terakhir tentunya. Dan memang benar
seperti yang dikatakan si kakek penjual, buku itu benar-benar menegangkan dan
menyeramkan.
Di luar bis
yang melaju kencang, hujan turun dengan derasnya. Kilat menyambar bergantian
dan terkadang terdengar suara guruh yang menggelegar. Sejenak Budi melihat
berkeliling dan ternyata susana mendadak hening, semua penumpang nampaknya
sudah terlelap. Bulu kuduknya terasa merinding.
“Baca halaman
terakhirnya gak yah?”, pikir Budi bimbang.
Antara
penasaran dengan rasa takut berbaur menjadi satu. Di luar jendela malam tampak
makin gelap. “Ah sudahlah, sekalian aja. Nanggung!”
Dengan
tangan gemetar ia pun membuka halaman terakhir dari buku tersebut secara
perlahan … Dan akhirnya tampak sebuah lembaran kosong dengan sepotong label di
bagian pojok kanan atas. Sambil menelan ludah, Budi membaca huruf demi huruf
yang tercantum:
- PENUNGGU
BIS BERDARAH -
Terbitan CV.
Pustaka Buku
Harga Pas:
Rp 9.500 ...





0 komentar:
Posting Komentar