Jujur
ku katakan padamu bahwa sebelum hadirnya dia, Hidupku hanya bertemankan sepi.
Hati ku gersang oleh cinta dan kasih segersang padang pasir Sahara. Hari-hari
begitu membosankan dengan sebuah buku dan pena yang senantiasa ku perbuat untuk
membunuh kesepian ini. Dan hidup ku sepenuhnya ku abadikan kepada keluarga
untuk menyelesaikan masalah-masalah keluarga sehingga aku lupa akan kebahagian
diriku sendiri. Aku lupa bahwa aku adalah seorang insan yang punya hati dan
hatiku ini butuh cinta untuk bisa terus berdenyut.
Aku
hanya mendengar cerita cinta tapi aku sendiri tak pernah merasakan apa itu
Cinta, hingga suatu hari hadirlah dia dalam hidupku. Dia menawarkan cinta dan
hatinya kepadaku, dia mengucapkan janji-janji manis dan dia dengan jelas
mengatakan bahwa dia mencintai ku lalu menanyakan apakah aku sudi untuk menjadi
orang paling istimewa buat dirinya. Aku terima cintanya dan akhirnya kita
berdua resmi menjadi sepasang kekasih. Wah begitu bahagianya diri ku, rasanya
dunia serasa milik kami berdua.
3
bulan kemudian…
Aku
percaya bahwa Tuhan memberikan jalan yang terbaik bagi semua umatnya, Tapi
masalahnya jalan itu sudah terputus setelah dia meninggalkan ku tanpa sepatah
katapun. Dia mengatakan selamat tinggal melalui pesan sms singkatnya. Duniaku
ketika itu terasa gelap, jantung ku bagaikan berhenti berdetak, darahku
seolah-olah berhenti mengalir. Hidupku yang dulunya syurga berubah menjadi
neraka yang menakutkan. Aku merana, Aku kecewa, Aku sedih, hidup ku begitu
sengsara, hatiku bagaikan teriris-iris. Aku ingin mati ketika itu, ku ambil
sebilah pisau lalu ku iris-iris tangan kiri ku. Tangan kiri ku bedarah tapi aku
tahu hati ku jauh lebih berdarah lagi. ku kira aku akan mati tapi Tuhan masih
memberikan aku kesempatan untuk hidup melalui pertolongan dari seseorang yang
ku anggap beliau adalah malaikat penolongku.
Aku
benci dia karena dia aku hampir gila, karena dia aku juga hampir mati. Hati ku
tak bisa menemukan damai. Aku terus mencari tahu mengapa dia meninggalkanku
meskipun aku sudah banyak berkorban untuk dirinya dan bahkan aku sanggup
berkorban nyawa untuk dia. Namun mengapa dia masih ingin meninggalkan ku dengan
cara yang begitu keji ?
Sampai
sekarang aku tidak pernah tahu alasannya. Setiap kali aku berusaha
menghubunginya, dia tak pernah mau berbicara baik-baik kepadaku. Dia menghina
ku, dia mempermalukan ku. Dia bilang aku pelacur, dia bilang ibu ku pelacur.
Dia memaki diriku dengan kata-kata yang tak pantas diucapkan oleh siapapun. Dia
bilang aku anak sial Dan hati ku hancur lebur dan aku begitu menderita karena
penghinaan dari seseorang yang pernah memperkenalkan warna hidup kepada ku.
Jadi
ku rasa pantas kalau ku bilang dia adalah manusia terkejam yang pernah ku
kenal. Tapi jujur sekarang hati ku sudah kembali menemukan damai. Aku sudah
bisa ceria lagi karena aku sudah ikhlas dan pasrah terhadap kejadian tersebut
dan yang paling penting aku sudah ikhlas dan tulus memaafkan kesalahannya
karena aku tahu memberikan maaf akan membuka belenggu-belenggu sakit hati dan
akhirnya akupun ikhlas…
Entah
mengapa juga aku sama sekali tidak merasa takut tapi justru aku merasa bahagia
saat aku melihatnya lagi, hatiku tenang dan damai. Aku hendak menanyakan
kabarnya, tapi belum sempat aku menanyakannya, ia terus menyerang ku dengan
kata-kata kasar dan yang tidak pantas diucapkan oleh siapapun. Meskipun begitu,
aku masih berharap kalau dia masih mencintaiku, aku masih berharap bahwa kemarahannya
disebabkan oleh sesuatu yang tidak ku ketahui.
Dia
ingin memukulku Diary, tapi justru aku hanya diam, memang pukulannya tidak
begitu kuat Diary. Aku bagaikan dirasuk setan cinta Diary, mengapa ketika itu
aku masih bisa berpikir bahwa biar saja ia memukulku dengan tangannya sendiri
karena dengan cara itu saja tangan itu bisa menyentuh tubuhku yang terlalu
merinduinya wahai Diary, pukulannya sama sekali tidak membuat aku merasa sakit
justru ia bagaikan penawar rinduku yang selama ini menyiksa batinku. Aku memang
sudah dirasuk setan cinta wahai Diary, sehingga aku tidak bisa membedakan mana
yang pantas dan mana yang tidak.
Untuk
yang ketiga kali tangannya hendak menyentuh kepalaku namun dengan spontan
tangannya berhenti ketika ia melihat aku sedang mengiris-iris tanganku sendiri
dengan sebuah mata pena yang ku ambil dari pencil case ku. Mungkin aku lebih
baik mati daripada harus kehilangan cintanya, tangan kiriku kini berlumuran
darah, garisan-garisan merah menghiasi sekujur lengan bawah tangan kiriku.
Belum sempat urat nadi itu putus dia sudah menahan tanganku untuk berhenti
melakukan itu lalu ia rampas pena dari tanganku dan membuangnya jauh-jauh.
Mengapa
ia tak biarkan aku mati, bukankah itu yang dia mau bahwa aku mati dari
kehidupannya. Wajahnya tampak seperti orang sadang panik, bagaikan sejuta
bimbang tersimpan dibenaknya saat melihat darah itu mengalir tanpa henti dari
tangan kiri kananku. Kedua kakinya perlahan-lahan melangkah ke-belakang sambil
kedua matanya melihat tetesan darah merah yang keluar dari tangan kiriku. Aku
tahu dia dalam keadaan takut, sementara aku tak merasakan apa-apa seperti
berada diantara sadar dan tidak sadar aku menatapnya yang hendak menjauh
dariku. Ku kira aku akan mati ketika itu, darah ditangan kiriku mengalir cukup
deras. Entah mengapa tiba-tiba darah itu kian menyurut, aku tidak mengerti
bagaimana itu bisa terjadi, ku anggap ia suatu keajaiban dari Tuhan. Jika
selama ini aku hanya mendengar keajaiban Tuhan dari orang – orang maupun yang
kulihat dari film-film fiksi tapi kali ini aku menyaksikan keajaiban Tuhan itu
dengan mata dan telingaku sendiri. Mengapa setelah kejadiaan itu hatiku yang
dulu resah, gundah dan gerah kini kembali menemukan damai yang dulunya sempat
pergi. Ku harap sekali bahwa damai yang kurasakan kini tak akan pergi lagi dan
terus menghuni dihatiku buat selamanya.
Andai
saja dia mengerti kalau hatiku berbicara padanya,
Cinta
ini tak pernah salah...
Mana
mungkin aku bicara cinta
Jika
kau sendiri tak merasakannya.
Bagaimana
mungkin aku rasakan rindu
Jika
kau sendiri tak miliki rindu itu.
Bagaimana
mungkin aku mengingat namamu
Jika
namaku tak pernah ada dihatimu.
Maafkan
aku karena telah membuatmu resah.
Maafkan
aku karena telah membuatmu susah
Maafkan
aku karena telah membuatmu gundah
Maafkan
aku karena telah membuatmu gerah.
Namun
satu hal yang pasti bahwa cinta tak pernah salah kalaupun harus kau bagikan
cinta itu kepadanya.
Dalam
diam aku melupakanmu
Senyap
dan sunyi bagai teman sejatiku
Airmata
sesekali mengalir meskipun sudah ku usahakan untuk dibendung.
Terkadang
aku rapuh dalam menjalaninya
Tapi
ku yakin pengorbanan cinta ku tak akan pernah sia-sia
Suatu
saat cinta itu sendiri yang akan menjelaskannya padaku.
Ketika
kita mencintai seseorang
Kita
harus sudah siap untuk kehilangannya
Dan
ketika kita berani bercinta
Kita
juga harus sudah siap untuk menang dan kalah.
Tapi
cinta sejati akan terus tetap bersinar meskipun berbagai bencana melandanya.
Wahai
Diary, kini ku berjuang untuk bisa melupakannya. Aku tidak lagi mengirimkan
pesan sms untuknya, ku tidak lagi menyebut namanya. Sudah kuhapus nomor
handponenya, sudah kubakar foto-fotoku bersamanya begitu juga sudah ku hapus
semua gambar-gambar tentang dia dilaptop ku. Ku berjuang untuk menghapus
kenanganku bersamanya. Tapi Diary, semakin kuat aku mengubur kenangan itu
ternyata semakin kuat bayangannya muncul dalam tiap gerak-gerikku. Ternyata aku
salah kenangan tidak bisa dihapus dengan cara apapun dan kini dalam sadarku
ternyata kenangan pahit itu akan menjadi sesuatu yang manis dan indah di
kemudian hari.
Jujur
ku katakan padamu Diary, meskipun sekarang dia sudah menjadi bagian dari masa
laluku namun rasa sayangku kepadanya tidak pernah berkurang sedikitpun meski
rasa cintaku terhadapnya memang tinggal separuh. Pengalaman ini telah menjawab
pertanyaanku selama ini tentang perbedaan antara cinta dan sayang. Sayang itu
tumbuh mekar dan berakar murni dari hati sementara cinta tak lain dan tak bukan
adalah lebih cenderung kepada nafsu yang membutakan mata hati sehingga siapa
saja yang sedang merasakannya tak bisa berfikir dengan akal yang sehat.
Munafik!
Kalau ada yang bilang move on itu sesuatu yang mudah. Move on itu tidak mudah,
sama sekali tidak mudah mungkin hal paling susah yang pernah kulalui. Hanya
orang-orang yang pernah melaluinya saja yang mengerti begitu susahnya untuk
move on. Sesakit apapun itu, sesusah apapun ia namun aku harus tetap melaluinya
karena hanya dengan begitulah aku bisa meneruskan hidup. Badai tak selamanya
ada, cepat atau lambat ia pasti berlalu. Kuharus terus berjalan jangan pernah
lagi lihat kebelakang sampai badai ini berlalu untuk selamanya.
Oh
Diary, belum sempat badai ini menjauh, datang lagi satu badai dari arah yang lain.
Malam itu merupakan malam menyambut ramadhan, aku hendak pulang ke rumah
setelah habis berdiam diri di sutau tempat untuk menenangkan hati dan
pikiranku. Tanpa berpikir bukan-bukan aku menuju pulang ke rumah, beberapa
menit kemudian aku sudahpun berada didepan pintu. Aku memang tidak punya kunci
sehingga aku harus mengetuknya. Ku ketuk pintu itu berkali-kali berharap ada
seseorang membukanya. Tidak ada respon, seperti tidak ada orang di dalam rumah.
aku mengetuknya lebih kuat lagi karena kuyakin kakak ku ada di dalam. Setelah
kuketuk beberapa kali dengan agak kuat akhirnya pintu itu terbuka tapi
terbukanya pintu itu bukan untuk mengizinkan aku masuk melainkan sebaliknya
dibuka untuk mencampak keluar barang-barang dan pakaianku. Belum sempat aku
meminta penjelasan pintu itu sudah ditutup lagi. Sudah bersusah payah untukku
menyatukan hatiku lagi tapi akhirnya hati itu harus binasa kembali. Tubuhku
merasakan lemah yang luar biasa begitu juga dengan batinku. Aku tidak tahu apa
yang harus aku lakukan disaat itu. Hidupku bagaikan pecah berkeping-keping.
Oh
Diary, Malam ini aku terpaksa tidur diluar bertemankan angin malam yang dingin.
Ku ayunkan kaki dengan bersisakan sedikit semangat yang ada, semangat untuk aku
memperjuangkan mimpiku selama ini yakni menjadi seorang penulis novel. Hanya
mimpi itu saja yang kini masih ada dikehidupanku. Aku kuat dan tegar karennya.
Kini baru kutahu sebesar apapun bencana yang melanda, kita tidak akan pernah
kalah selagi mimpi itu masih bersemayam dihati dan dijiwa sebab mimpi menyimpan
berjuta harapan dan harapan adalah alasan mengapa kita ingin meneruskan hidup
ini.
Malam
demi malam aku tidur diluar, tepatnya aku tidur di playground. Disaat subuh
menjelang udara dinginnya bagai menusuk ke tulang. Pernah malam itu hujan turun
begitu derasnya membuat tubuhku menggigil kedinginan. Aku terpaksa pindah dari
tempat tidurku yang biasa, kini aku tidur di study corner tanpa beralaskan
sesuatu. Meskipun sudah Ku ambil beberapa helai pakaianku untuk dijadikan
selimut tapi aku tetap merasa dingin, dan tempias hujan sedikit membasahi
tubuhku. Aku semakin kedinginan, aku bagaikan tak kuat lagi Diary, tapi apa
yang bisa aku perbuat kecuali harus bertahan sampai datangnya sang pagi. Diary
aku sama sekali tidak pernah menyangka hidupku sekarang seperti hidupnya
survivor. Aku bagaikan sedang bermain survivor. Aku memang surviving, aku tidak
punya pilihan lain kecuali menjadi survivor ketika itu. Oh Dairy pengalaman
tidurku diluar dalam kehujanan benar-benar berkesan dalam hidupku. Tidak ada
pengalaman seberkesan itu, tak kan ada satupun yang bisa menggantikan
kedudukannya dihatiku. Ia benar-benar sebuah pengalaman yang paling berharga
yang pernah ku alami.
Saat
ini aku memang tidak punya siapa-siapa kecuali Allah didalam dada. Setiap
langkah dan gerakku dia pasti ada bersamaku. Dia maha adil dan maha tahu sebab
itu dia tidak akan membiarkan umatnya menderita untuk waktu yang lama apalagi
dia tahu bahwa umatnya itu tidak pernah menyerah kalah dan pasti sabar dalam
menghadapi segala jenis ujian hidup.
Aku
sekarang sudah bersiap-siap untuk pergi ke Jurong east. Kugunakan MRT saja biar
cepat sampai. Tujuanku ke sana untuk bertemu dengan seseorang yang kukenal
lewat Facebook. Aku melihatnya hanya lewat gambar jadi ini adalah pertemuan
pertama ku dengannya. Sumpah Diary, niatku dihati untuk bertemu dengannya
sungguh tulus untuk persahabatan. Namanya berawalkan huruf D, sepertinya dia
orang baik Diary, tapi sebaiknya aku jangan terburu-buru menilai seseorang
karena apa yang kita lihat itu belum tentu mencerminkan dirinya yang
sesungguhnya. Sambil mengheret suitcase/kopor, aku keluar dari stasiun MRT. Aku
berdiri tak jauh dari stasiun sebab kita berjanji untuk bersua disana. Mataku
sudah melihat dia dan jantung ini mulai berdetak lebih lincah, aku sedikit nervous
ketika harus bertemu dengan orang yang belum pernah ku temui. Aku langsung saja
menghulurkan tangan ke arahnya dan dia menyambut tanganku kembali. Kita saling
berkenalan dan sedikit bercerita tentang hal kita masing-masing. Dia merasa
heran mengapa aku membawa suitcase/kopor. Ku jawab dengan sedikit berbohong
bahwa aku baru saja pindah rumah dan sekarang aku hendak menuju ke rumahku yang
baru. Lalu dia mengajakku ke henderson yaitu tempat dimana ia selalu hang out
dengan kawan-kawannya. Dengan senang hati ku ikut langkahnya, sebab setidaknya
sekarang aku tak sendiri lagi, tidak seperti hari-hari sebelumnya yang hanya
bertemankan dinginnya angin malam.
Aku
diperkenalkan dengan kawan-kawannya. Aku memang lebih banyak diam setiap kali
aku bertemu dengan orang-orang baru. Sampai tengah malam, akhirnya hanya kita
bertiga yang masih mendiami tempat itu, aku, dia dan sahabatnya yang berawal
huruf B. ketika itulah aku mengenal lebih banyak tentang mereka. B ternyata
orang paling lucu yang pernah ku kenal dalam hidup. B selalu membuat aku ketawa
bagiku dia adalah komedian terlucu di dunia. Bersamanya aku tak pernah berhenti
tertawa. Bahkan tanpa dia sekalipun aku selalu tertawa jika membayangkan
tentang dia. Sementara D tak kalah serunya, dia begitu peka terhadap
orang-orang yang ada disekitarnya, bersama mereka aku merasakan hidup, aku
merasakan bahagia dan untuk pertama kalinya aku mengecap nikmatnya rasa
persahabatan.
Hari
demi hari kuhabiskan waktu bersama mereka dan malam demi malam mereka menemani
tidurku. Kita bertiga tidur Di luar Diary, tapi sekarang rasanya berbeza sebab
aku tidak lagi tidur sendiri yang bertemankan dinginnya angin malam tapi kini
aku ditemani oleh orang-orang yang membuatku merasa hidup. Ku bilang kepada
mereka bahwa aku tidak mau pulang kerumah karena aku lebih suka hidup diluar,
mereka hanya diam meskipun ku yakin ada seribu tanya dibenak mereka. Itulah
sahabat sesungguhnya, mereka tidak perlu bertanya mengapa tapi mereka hanya
perlu mengerti. Untuk sekian kalinya mereka menunjukan arti sahabat kepadaku.
Oh diary, hati ini begitu tersentuh sekali terhadap apa yang mereka lalukan
untuk ku. Mereka rela tidur diluar hanya untuk menemaniku. Dalam sadar, aku
juga harus bisa menunjukkan kembali makna sahabat kepada mereka. Aku tidak
boleh egois, jadi ku katakan kepada mereka bahwa esok hari aku akan pulang
kerumah meskipun itu hanya karanganku saja. Aku tidak mahu mereka ikut sengsara
karena masalahku biarlah aku sendiri yang sensara lagipula mereka sudah
menunjukan arti sahabat yang sesungguhnya kepadaku. Itu sudah lebih dari cukup.
Diary-ku,
kini aku hanya ingin fokus untuk sahabat. Aku sudah mulai menjahitnya di
kehidupanku. Selama ini mungkin aku sudah lalai tentangnya. Buatku sahabat
adalah keluarga. Aku akan mendukungnya, merawatnya, melindunginya, menjaganya
ku tak perduli meskipun ia salah atau benar yang pasti aku akan tetap berdiri
setia untuk mereka yakni untuk semua sahabat-sahabatku.
Sahabatku
kalian selalu ada dihati
Kalian
tidak akan pernah pergi
Meskipun
matahari berhenti bersinar
Sahabatku,
saat ini kalian adalah keluargaku…
Kalian
adalah segalanya untukku
Sahabat
diciptakan dengan penuh cinta
Dan
cinta bukanlah sampah
yang
bisa kita buang semaunya.
Terima
kasih diary, Sudah mengijinkanku untuk mencoret-coret semauku meskipun hal itu
membuat kotor dirimu.




0 komentar:
Posting Komentar