1. Harry dan Jamie Redknapp
Dua orang ini adalah sosok yang cukup sukses di sepakbola
Inggris. Namun pemilihan waktu mereka untuk bereuni mungkin tidak terlalu
tepat.
Harry mendapatkan tugas menyelamatkan Southampton dari
degradasi pada 2004/2005. Ini merupakan tugas berat karena The Saints memang
sudah tampil buruk jauh sebelum kedatangan Harry.
Jamie adalah sosok yang cukup sukses ketika membela
Liverpool dan Tottenham. Ia memenuhi panggilan ayahnya namun mereka gagal
menyelamatkan Southampton.
2. Kenny dan Paul Dalglish
Saat diminta untuk menggantikan Kevin Keegan sebagai pelatih
Newcastle, Kenny Dalglish membawa serta putranya, Paul. Kedatangan ayah dan
anak ini sempat memantik optimisme tinggi di benak para suporter Newcastle.
Paul sempat menunjukkan performa menawan dalam beberapa laga
awal bersama Newcastle. Namun permainannya menurun tajam dengan anjloknya
performa klub secara umum.
Saat Kenny dipecat pada 1998 karena rentetan hasil
mengecewakan, karier Paul di Newcastle juga seakan habis. Pelatih baru Ruud
Gullit menganggap performa Paul tidak cukup bagus untuk Newcastle.
"Gullit mengatakan kepada saya bahwa dia tidak akan
pernah memainkan saya karena dia benci ayah saya," ucap Paul ketika itu.
3. Sir Alex dan Darren Ferguson
Sir Alex Ferguson yang legendaris pernah bekerjasama dengan
putranya Darren di Manchester United pada awal 90-an. Namun kemudian Sir Alex
memutuskan bahwa anaknya tidak cukup bagus bagi United.
Darren bemain cukup banyak untuk mendapatkan medali Premier
League pada 1992/93. Namun pada awal musim 1993/94, Sir Alex menjual Darren ke
Wolverhampton.
Ayah dan anak ini tidak sukses bermain dalam satu tim. Namun
Darren menunjukkan bahwa ia mewarisi darah kepelatihan ayahnya. Meski hanya
melatih tim kecil, Darren menunjukkan bahwa dirinya punya kemampuan mendapatkan
hasil-hasil positif.
4. Johan dan Jordi Cruyff
Jordi menghadapi tantangan berat untuk mengikuti kehebatan
sang ayah, Johan yang merupakan salah satu pemain terbaik sepanjang masa. Bukan
hanya hebat sebagai pemain, Johan juga cukup sukses ketika melatih, terutama di
Barcelona.
Karier Jordi di Barca tak pernah mencapai kesuksesan. Ia
tidak mampu menembus menjadi skuad inti Barca, bahkan ketika masih dilatih
ayahnya.
Namun Jordi kemudian cukup sukses begitu keluar dari Barca.
Ia sempat bermain bagi Manchester United dan timnas Belanda, sebuah karier
bermain yang cukup membanggakan.
5. Steve dan Alex Bruce
Kerja keras Steve Bruce untuk membangun stabilitas di
Birmingham menghadapi ancaman serius. Kerja kerasnya selama bertahun-tahun
hancur pada musim 2005/06.
Meski memiliki skuad yang cukup kompetitif, Birmingham
menghadapi ancaman besar degradasi. Pada januari 2206, Steve membeli Alex Bruce
untuk membantunya lepas dari jeratan degradasi.
Namun nasib Birmingham tak bisa diselamatkan lagi. Lima
bulan setelah kedatangan Alex, Birmingham terdepak ke divisi Championship.
6. Gordon dan Gavin Strachan
Gordon memang membawa putranya Gavin ketika menangani
Coventry, namun ia sadar bahwa putranya tidak memiliki kemampuan istimewa.
Selama bersama di Coventry, Gordon hanya memainkan Gavin empat kali.
Pada musim 1999/2000 Coventry memiliki harapan besar dengan
kehebatan Mustapha Hadji dan Robbie Keane. Gordon berhasil membawa Coventry
tampil gemilang dan sukses menjauhi zona degradasi.
Namun semusim kemudian semua berubah. Coventry terdegradasi
dan Gordon dipecat. gavin kesulitan berkarier di Premier League setelah
kepergian ayahnya. Ia lalu menghabiskan sisa kariernya di divisi-divisi bawah
liga Inggris.




0 komentar:
Posting Komentar